Masalah Kerusakan Lingkungan Akibat Perkembangan Penduduk Daerah Jakarta

Daerah ibukota Jakarta merupakan daerah yang sering berhadapan dengan kerusakan lingkungan hidup yang cukup kompleks dan hampir membelit kesemua macam aspek serta dimensi kehidupan masyarakatnya. Hal itu terjadi sebagai akibat tingginya tingkat pertumbuhan penduduk, baik dari kelahiran maupun urbanisasi yang terjadi di daerah ibukota Jakarta. Pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat pada akhirnya menimbulkan tekanan terhadap lingkungan hidup juga meningkat. Data yang dirilis oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta, menyebutkan bahwa dengan rata-rata 100 lubang makam / perhari, maka tiga tahun kedepan DKI Jakarta bakal mengalami krisis lahan pemakaman. Dari diskusi dengan berbagai pihak serta pengamatan di lapangan maka permasalahan lingkungan hidup yang menonjol di DKI Jakarta antara lain:
1. Kerusakan lingkungan di DKI Jakarta ditandai dengan berkurangnya daerah resapan air, menyusutnya areal terbuka hijau (RT), kerusakan area terbuka biru (sungai, situ, saluran air, dan perairan pantai) eksploitasi air bawah tanah dengan berbagai dampak negatifnya (penurunan permukaan tanah, intrusi air laut, dan sebagainya), abrasi pantai akibat berkurangnya hutan mangrove di pantai utara,serta sistem drainase kota yang buruk.
2. Pencemaran lingkungan di DKI Jakarta ditandai dengan tingginya tingkat pencemaran udara, air, dan perairan laut akibat pengelolaan sampah dan limbah yang belum baik dan benar.
Masyarakat memiliki peranan penting dalam kerusakan dan pencemaran lingkungan, karena itu seyogyanya mengambil peran yang sama pentingnya dalam perlindungan lingkungan hidup sebagai implementasi hak dan kewajiban asasi warga negara yang dijamin oleh Konstitusi UUD 1945 dan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Laju pertumbuhan penduduk yang melaju pesat telah mendorong perubahan fungsi lahan kota secara besar-besaran. Ini tergambar jelas pada citra satelit yang menunjukan tutupan hutan kota terus menyusut, bahkan nyaris lenyap dari wilayah DKI Jakarta. Sejak 15 tahun silam, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah bertekad menambah luasan RTH. Selain itu juga dilakukan pembagian RTH atas 4 (empat)kategori yakni: 1. RTH Taman; 2. RTH Privat; 3. RTH Pemakaman; 4. RTH Pembibitan. Meski ada niat untuk terus mengembangkan luasan RTH, namun dalam pelaksanaan di lapangan kerap berbenturan dengan kepentingan yang lain, dan RTH yang selalu dikorbankan. Hal ini antara lain terlihat pada RTH Pemakaman Menteng Pulo, yang kian menyusut karena pembangunan jalan, pendirian gedung dan sebagainya yang menelan lahan pemakaman sekitar 1 hektar lebih. Tidak terintegrasinya pengelolaan ruang hijau dan biru menyebabkan banyak situ di Jakarta hilang tak berbekas, dan yang masih tersisa umumnya dalam keadaan rusak. Areal Ruang Terbuka Biru biasanya dipenuhi pemukiman liar, menjadi tempat pembuangan limbah, atau tempat pembuangan sampah, dan kemudian diuruk untukdialihfungsikan. Departemen Kimpraswil (2003) mencatat 16 situ di Jakarta dari luas semula 168,42 ha dipastikan sudah menyusut. Misalnya Situ Rorotan, Jakarta Utara, Situ Rawa Kendal, Situ Rawa Ulujami di Jakarta Selatan, dan Situ Rawa Penggilingan di Jakarta Timur telah hilang tak berbekas.
Tingkat polusi udara di DKI Jakarta adalah tertinggi di seluruh Indonesia, sehinggawajar bila ada yang menyebutnya sebagai “kota polusi.” Pada skala global, Kota Jakarta termasuk nomor kota dengan pencemaran udara tertinggi 3 setelah kota di Meksiko dan di Thailand. Masih dalam skala global kandungan partikel debu (particulate matter) dalam udara Jakarta berada pada urutan nomor 9 (yaitu 104 mikrogram per meter kubik. Uni Eropa menetapkan ambang batas tertinggi 50 mikrogram) dari 111 kota dunia yang disurvei oleh Bank Dunia pada tahun 2004.
Jumlah hari udara tidak sehat juga meningkat, yakni 22 hari di tahun 2002 menjadi 7 hari di tahun 2003. Hasil penelitian Kelompok Kerja Udara Kaukus Lingkungan Hidup, pada tahun 2004 dan 2005, jumlah hari dengan kualitas “udara terburuk” di Jakarta jauh di bawah 50 hari. Tapi pada tahun 2006, jumlahnya justru naik di atas 51 hari. Menurut BPLhD DKI Jakarta, kandungan PM-10 (Partikel Debu) yang pernah mengalami penurunan justru kembali meningkat pada 2011 dan 2012 cenderung mengalami peningkatan, diduga akibat penurunan aktivitas uji emisi kendaraan bermotor. Sumber utama pencemaran udara adalah dari gas buang kendaraan bermotor. Hal ini terjadi selain akibat jumlah kendaraan bermotor terus meningkat tajam, juga karena warga masyarakat cenderung enggan melakukan uji emisi, dan bengkel-bengkel pemeliharaan kendaraan yang tidak melakukan perbaikan kendaraan secara baik dan benar. Melihat kenaikan jumlah kendaraan bermotor, maka bisa dipastikan pencemaran udara di Jakarta juga bakal meningkat. Mengenai pencemaran air, Data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Jakarta (2011) menyebutkan bahwa 90 persen air tanah di Jakarta sudah tercemar oleh logam, nitrat dan e-coli. Pencemaran tidak hanya terjadi pada air tanah, tapi juga pada sumber-sumber air yang memasok jaringan pelayanan publik. Sedangkan air dari sumur penduduk selain umumnya telah tercemar oleh bakteri, juga terdapat kandungan logam bahkan pada sebagian wilayah terasa asin karena kadar garam meningkat. Air tanah di beberapa tempat Sementara air di sungai-sungai sudah sulit didaur ulang akibat pencemaran yang parah. Bahkan menurut Kementerian Lingkungan Hidup, air sungai Ciliwung di wilayah Jakarta sudah “no class.” Pemerintah telah berusaha menurunkan beban pencemaran sungai Ciliwung, namun tidak mudah. Beban pencemaran ideal menurut KLH berkisar 7.019 kilogram per hari. Sedangkan saat ini beban pencemaran Ciliwung berada pada kisaran 29.231 kg per hari. Artinya, perlu penurunan beban pencemaran sekitar 76 persen agar kembali normal.
Sumber pencemaran air di sungai-sungai di Jakarta adalah limbah domestik. Bahkan menurut media massa sekitar sepertiga dari 6000 ton /hari sampah di DKI Jakarta masuk (dibuang) ke dalam sungai dan badan-badan air lainnya (situ, selokan, dan sebagainya). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Indonesia memaparkan data yang dapat menjelaskan bahwa sebagian besar air sungai di Jakarta berkualitas buruk. Sampah-sampah yang terjadi di Jakarta sudah menjadi permasalahan serius. Di Jakarta, volume sampah setiap hari rata-rata sekitar 6000 ton, dan lazimnya mengalami peningkatan sekitar 15% pada momentum tertentu seperti lebaran, natal, dan tahun baru. Volume sampah juga meningkat pada saat musim hujan, musim pernikahan, musim hajatan, musim order percetakan, musim belanja, dan musim-musim lainnya. Sampah tidak akan pernah habis, hal ini dikarenakan konsekuensi dari aktivitas manusia itu sendiri. Bahkan akan selalu bertambah terus setiap hari seiring dengan bertambahnya aktivitas masyarakat di kota Jakarta. Dari karakteristiknya sampah di Jakarta dan di kota-kota lainnya di Indonesia, rata-rata 60 – 70% adalah sampah organik, yang didominasi oleh sampah sisa makanan dan daun-daunan. Sedangkan 40% merupakan sampah non organik berupa sampah plastik dan sejenisnya. Banjir yang terjadi di Jakarta juga merupakan dampak kerusakan lingkungan yang parah di kawasan Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, dan Tangerang. Dimaksud dengan faktor alamiah yaitu adanya muara dari 13 sungai di DKI Jakarta, kondisi topografi DKI Jakarta hampir 40% berada dibawah permukaan laut, dan naiknya muka laut sebagai dampak pemanasan global. Dari faktor manusia sendiri antara lain kebiasaan masyarakat yang membuang sampah disungai. Sampah disungai meningkat karena aktivitas masyarakat yang semakin meningkat serta kepadatan penduduk yang mempengaruhi tingkatan volume sampah di Jakarta.
Maka dari itu hal ini perlu dicegah dengan cara pemerintah yang menyarankan sebagian penduduknya untuk melakukan program KB untuk mengurangi pertambahan penduduk di Jakarta, kemudian melakukan transmigrasi ke kota-kota lain selain di Jakarta agar dari luar daerah semuanya tidak menumpuk di kota Jakarta saja, hal ini guna mengurangi kepadatan penduduk serta mengurangi jumlah pemukiman penduduk yang kumuh. Masalah sampah perlu adanya kepedulian membuang sampah non organik dengan organik pada tempatnya sehingga dapat dibedakan mana sampah yang langsung dibakar atau sampah yang dapat didaur ulang untuk digunakan kembali. Penambahan lapangan kerja perlu dilakukan guna untuk meningkatkan taraf hidup penduduk di kota Jakarta, maka diharapkan adanya peningkatan di dunia pendidikan dapat merubah paradigma dalam bidang kependudukan. Kemudian dengan meningkatkan kesadaran dan kependidikan kependudukan akan efek dari laju pertumbuhan yang susah untuk dikendalikan, diharapkan juga penduduk umum secara sukarela turut menyukseskan gerakan keluaga berencana. Lalu dengan meningkatkan produksi dan pencarian sumber makanan harus dilakukan guna untuk mengimbangi jangan sampai persediaan bahan pangan tidak dapat diikuti dengan adanya laju pertumbuhan. Setiap daerah di kota Jakarta diharapkan dapat mengusahakan swasembada pangan agar tidak ketergantungan dengan daerah lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s