Masalah Dampak Penambangan Pasir Bagi Lingkungan

Kegiatan penambangan pasir dilakukan di desa Sokawera, Kecamatan Somagede. Daerah ini memang dikelilingi oleh sungai yang menghasilkan pasir berlimpah. Dengan berlimpahnya pasir mendorong para pelaku usaha untuk mendapatkan pasir tersebut. Mengingat pasir sangat dibutuhkan untuk membangun rumah maupun gedung-gedung yang lain. Penambang adalah warga lokal yang memang sudah sejak lama bekerja menambang pasir di daerah tersebut dan mereka bertempat tinggal tidak jauh dari sungai. Sedangkan pengepul pasir sendiri berasal dari daerah lain yang datang menggunakan truk-truk besar untuk megangkut.
Setiap pagi para penambang pasir mulai mengambil pasir yang ada di sungai. Dahulu masih menggunakan cara yang sederhana, yaitu dengan cangkul dan serok. Kegiatan ini menjadi mata pencaharian warga di sekitar sungai. Kebanyakan dari mereka adalah penambang yang sudah melakukan pekerjaan tersebut sejak lama. Sejak mereka muda, kemudian menikah, dan sekarang menjadi sumber penghidupan keluarga.
Seiring dengan kemajuan teknologi dan peningkatan kepentingan muncul cara penambangan pasir yang lebih modern, yaitu menggunakan alat mekanik. Alat-alat yang lebih modern tentu akan meningkatkan hasil dari penambangan, dan secara otomatis meningkatkan penghasilan dalam rupiah. Hal ini berdampak negatif pula terhadap sungai dan daratan di sekitarnya. Karena hasil yang didapat banyak tanpa mengeluarkan tenaga yang cukup besar, mereka cenderung ingin memperoleh lebih dan lebih banyak lagi. Akibatnya terjadi eksploitasi yang tidak terkendali dan merusak lingkungan. Bahkan mereka sempat menggunakan alat pengeruk pasir yang lebih modern, yaitu semacam alat berat. Namun penggunaan alat tersebut memungkinkan terjadinya kesenjangan antar penambang pasir, sehingga tidak digunakan lagi.
Pasir-pasir yang mereka kumpulkan akan diangkut oleh kendaraan, umumnya bak terbuka atau truk. Kendaraan-kendaraan tersebut adalah milik pengepul atau pelaku usaha daerah lain. Kemungkinan kerja sama mereka sudah terjalin sejak lama, antara penambang, sopir kendaraan, serta pelaku usaha. Namun tidak jelas perjanjian seperti apa yang mereka buat dan sepakati bersama. Hal ini terlihat ketika terjadi dampak dari akibat penambangan pasir yang tidak kunjung diatasi dan diselesaikan. Masalah yang muncul terus saja terjadi dan belum ada pemecahannya. Masyarakat lain yang bukan penambang hanya menjadi pengamat dan ikut merasakan dampak dari kegiatan yang mereka lakukan.
Kegiatan penambangan yang dilakukan di Desa Sokawera ini pada awalnya tidak menimbulkan dampak terlalu besar, tetapi karena terlalu lama hal ini dilakukan terus menerus, lama kelamaan menimbulkan dampak yang besar. Hal ini terjadi karena kegiatan itu sendiri dilakukan tersu menerus dengan skala yang bertambah setiap harinya. Penambangan yang dilakukan juga menggunakan alat yang sudah modern, sehingga dapat meningkatkan jumlah eksploitasi pasir. Dampak-dampak dari kegiatan pasir ini antara lain:
a. Air sungai yang semakin dalam karena pasirnya terus-terusan diambil bahkan sebelum sungai kembali memproduksi pasir tersebut. Hal ini terjadi sebagai akibat dari eksploitasi pasir di dasar sungai dalam jumlah besar.
b. Dataran di pinggiran sungai yang semakin sedikit.
Hal ini terjadi karena pasir-pasir di pinggiran sungai tidak luput dari kegiatan penambangan. Pasir-pasir tersebut diambil dan menimbulkan lubang yang besar dan dalam. Sehingga ketika musim hujan, lubang-lubang tersebut digenangi air sungai. Akibatnya daratan yang tersedia menjadi berkurang dan semakin sedikit.
c. Jalan di desa menjadi rusak.
Rusaknya jalan disebabkan oleh kendaraan pengangkut pasir yang setiap hari melewati jalan yang umumnya adalah jalan sempit dekat pemukiman warga. Bahan pembuatan jalannya juga tidak sekokoh dengan jalan utama (jalan raya). Sedangkan kendaraan pengangkut pasir umumnya adalah kendaraan berat, yang akan semakin berat ketika berisi muatan yaitu pasir.
d. Polusi udara, jalan yang berdebu
Dengan hilir mudiknya kendaraan pengangkut pasir yang dating setiap hari, bahkan saat hari sedang panas menimbulkan polusi udara yang tidak dapat terhindarkan. Setiap hari jalanan di pemukiman warga yang dilewati kendaraan udaranya bercampur dengan debu. Hal ini tentu saja mencemari udara yang seharusnya di desa masih asri.
e. Rusaknya tanaman di pinggir jalan yang dilalui oleh kendaraan pengangkut
Karena udaranya bercampur dengan debu, ketika kendaraan lewat debu-debu tersebut akan menempel di tanaman yang ada di pinggir jalan. Ini menyebabkan tanaman rusak, ditambah lagi dengan udara yang panas. Sehingga tidak ada tanaman yang tumbuh dengan baik, bahkan kebanyakan akan kering dan mati. Akibatnya produksi oksigen di desa tersebut berkurang.
f. Kebisingan
Kendaraan pengangkut pasir yang melewati jalan pemukiman penduduk adalah kendaraan besar dan berat yang suaranya juga keras. Hal ini menimbulkan polusi suara yaitu kebisingan. Ditambah lagi mereka datang setiap hari. Ketika siang hari warga ingin beristirahat sejenak dari aktivitas bertani menjadi terganggu dengan suara kendaraan yang hilir mudik tanpa jeda.
Dampak-dampak diatas tidak memberikan kompensasi terhadap warga lokal, jal ini menjadi tidak adil melihat dampak yang harus diterima oleh warga sebagai akibat dari kegiatan penambangan di lingkungan rumah mereka. Dalam hal ini, sebaiknya kita sebagai masyarakat sebenarnya mempunyai hak untuk melakukan penambangan tersebut, tetapi kita juga sebagai masyarakat harus sadar bahwa apa yang kita lakukan selama ini akan berdampak baik pada lingkungan, dan keadaan tersebut malah sebaliknya, lingkungan menjadi rusak dan tidak menjaga lingkungan sekitar. Sebaiknya, kita tidak perlu terlalu takut dan merasa bahwa kehidupan kita hanya sampai pada hari ini saja. Sebaiknya, pemanfaatan ini harus dikurangi, sebab semakin sering dilakukan maka semakin berdampak buruk bagi lingkungan. Kita harus menyadari bahwa lingkungan ini adalah milik bersama, kita harus bisa menjaga kelestarian lingkungan dan menjaga lingkungan ini jadikan sebagai tanggung jawab bersama. Semua warga desa harus memiliki kesadaran tinggi akan bahayanya atau dampak yang akan ditimbulkan bagi lingkungan, bukan hanya kerusakan saja tetapi sampai sungai pun bisa tercemar karena adanya kegiatan penambangan pasir yang tidak ada habisnya. Kita juga berkewajiban untuk menjaga kelestarian agar di masa yang akan datang sumber daya alam tersebut tetap ada dan generasi selanjutnya dapat merasakan manfaat dari apa yang kita rasakan sekarang. Intinya adalah bahwa penambangan pasir ini sebaiknya tidak terlalu sering dilakukan jika tidak ingin lingkungannya tercemar dan berdampak buruk bagi lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s