Sarjana Teknik Industri; Kualitas, Tantangan, dan Prospeknya dalam Era Perdagangan Bebas

Industri Indonesia, termasuk dunia perdagangannya selama ini sudah mengalami perubahan suasana dari tahun ke tahun mulai dari awal tahun 1960-an sampai pada masuk ke dalam zaman Orde Baru sudah dibebaskan lalu lintas perdagangan untuk ekspor-impor yang disertai dengan pembebasan lalu lintas devisa dan kebijaksanaan swasembada selama periode 1969-1984. Dunia usaha memang merasakan sebagai perubahan yang terus menerus, dengan disertai kekhawatiran bahwa peraturan selalu berubah sehingga mereka kerap kali mengambil sikap menunggu. Pada tahun 1984-1987 yang oleh penulis sering kali dijuluki sebagai periode konsolidasi sistem nasional, yang dalam kurva pertumbuhan ekonomi Indonsia diperlihatkan dengan adanya suatu plateau, telah diadakan berbagai deregulasi, de-etatisasi, de-birokratisasi, dan de-regulasi, mempersiapkan sistem nasional untuk bisa dengan tangguh memasuki era orientasi pasar internasional (globalisasi).

            Persaingan dalam negeri yang selama ini berlangsung merupakan kombinasi dari ketiga dasar bentuk struktur pasar yaitu persaingan sempurna, persaingan tak sempurna, dan oligopoli-monopoli. Mereka yang besar mungkin terbiasa dengan bentuk persaingan tak sempurna, oligopoli, dimana mereka hanya menghadapi beberapa pesaing saja, dan bila mereka bersepakat maka mereka bisa mempunyai pengaruh besar kepada suasana pasarnya, seperti penentuan harga, kuota, dll. Ada pula yang sudah terbiasa dengan bentuk monopoli, seperti pos dan giro, telekomunikasi, dan beberapa perusahaan yang didukung oleh birokrasi pemerintahan. Kondisi industri Indonesia saat ini sangat beraneka ragam. Ada yang sudah terbiasa dibuai oleh proteksi yang berlebihan dari pemerintah, sehingga mereka memang tidak memiliki daya saing yang tangguh. Dan kondisi demikian berbahaya sekali untuk masa depan dengan perdagangan bebas antar negara sebagaimana disepakati dalam GATT (General Agreement on Trade and Tariffs), GATS (General Agreement on Trade in Services), dan WTO (World Trade Organization). Lalu di lingkungan terdekat ASEAN akan berlaku AFTA (Asean Free Trade Area), dan di lingkungan yang lebih luas ada APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) yang juga mengacu kepada semangat GATT, GATS, dan WTO. Maka persaingan di dalam negeri akan merupakan persaingan internasional, karena perusahaan dari negara manapun akan bisa masuk ke negara manapun tanpa dihalangi oleh halangan tarif maupun non-tarif. Tingkat bea masuk akan diturunkan ke bawah lima persen, bahkan juga akan dihapuskan.

            Peranan sarjana teknik industri dalam industri tidak hanya ditentukan oleh sifat dan kualitas dari si lulusan, akan tetapi ditentukan juga dari budaya perusahaan yang berlaku di indonesia. Sarjana Teknik Industri dimungkinkan harus menjadi seorang pakar yang handal dalam bidangnya dan mau bersaing dengan manajer puncak perusahaan. Hanya dengan cara demikian maka Indonesia bisa mempunyai pakar seorang teknik industri, dan dengan demikian mempunyai pakar yang akan melakukan penelitian dan pengembangan teknologi dengan baik. Hal seperti ini dapat menjadi hambatan di awal, hambatan yang lain bawha manajemen perusahaan industri seringkali memiliki wawasan yang sedikit. Hal ini biasanya disebaban bahwa para pengusaha industri lebih bersifat pedagan daripada industrialis. Hambatan bentuk ketiga adalah budaya si sarjana teknik industri itu sendiri. Meskipun ia telah mengalami pendidikan tinggi, akan tetapi lingkungan keluarganya masih membawakannya sebagai anggota masyarakat agraris tradisional yang aristokratik feodal, sehingga sifatnya kurang menunjang ke arah yang dipersyaratkan di atas. Maka hal ini sudah jelas bahwa seorang Sarjana Teknik Industri Indonesia harus berkualitas dan berkapasitas tingkat dunia. Karyanya harus setara dengan rekan sarjana teknik industri dari negara lain di dunia, termasuk dari negara maju. Seorang Sarjana Industri harus menjadi seorang yang profesional dalam bidangnya, mampu bersaing dengan para profesional yang lain baik dalam sebuah perusahaan maupun diluar perusahaan, kemudian memiliki mutu internasional, siap bekerja dalam tim, berjiwa wiraswasta, memiliki kemampuan manajerial, dan memiliki etika profesi yang tinggi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s